DASPA UNTUK MAHASISWA
Setelah melewati DASPA, saya sampai pada satu kesimpulan:
DASPA bukan sekadar pendidikan fisik. Bukan pula sekadar tentang kuat berlari, bertahan dalam kelelahan, atau menyelesaikan setiap rangkaian latihan. DASPA adalah proses untuk mengembalikan seorang polisi kepada fondasi paling dasarnya.
Di PTIK, kami belajar berpikir.
Kami membaca teori.
Kami berdiskusi mengenai kepemimpinan, organisasi, strategi, kebijakan, dan Ilmu Kepolisian.
Tetapi di DASPA, kami diingatkan kembali bahwa sebelum menjadi seorang pemikir, seorang perwira adalah anggota Polri yang harus siap menghadapi tekanan, ketidakpastian, keterbatasan, dan risiko.
Pelajaran pertama: pangkat dan pengalaman tidak membuat kita kebal terhadap kelemahan
Masing-masing datang ke PTIK membawa pengalaman penugasan.
Ada yang pernah menjadi penyidik.
Ada yang bertugas di bidang operasional.
Ada yang memimpin anggota.
Ada yang telah menghadapi berbagai persoalan di kewilayahan.
Kita terbiasa menjadi orang yang memberi perintah, mengambil keputusan, dan menyelesaikan masalah.
Tetapi DASPA menempatkan kita kembali pada posisi sebagai peserta didik.
Lelah tetap membuat kita lelah.
Tekanan tetap menguji emosi.
Kesalahan kecil tetap memiliki konsekuensi.
Di situlah ego diuji.
DASPA mengajarkan bahwa semakin tinggi pendidikan dan pengalaman seorang perwira, seharusnya semakin besar kemampuannya untuk kembali belajar.
Perwira yang merasa sudah mengetahui semuanya sebenarnya sedang berhenti berkembang.
Pelajaran kedua: dalam kondisi sulit, kemampuan individu mempunyai batas
Ada banyak hal yang dapat diselesaikan dengan kecerdasan pribadi.
Tetapi dalam tekanan dan kelelahan, kita mulai menyadari bahwa tidak semua persoalan dapat diselesaikan seorang diri.
Ada saat kita kuat dan membantu rekan.
Ada saat kita sendiri berada pada titik lemah dan membutuhkan orang lain.
Dari situ saya semakin memahami bahwa soliditas bukan slogan.
Soliditas lahir ketika kita pernah sama-sama mengalami kesulitan.
Kita belajar membaca kondisi rekan.
Belajar menahan ego.
Belajar menyesuaikan kecepatan.
Belajar bahwa keberhasilan bukan tentang siapa yang tiba paling dahulu.
Dalam organisasi kepolisian, prinsip ini sangat penting.
Sebab operasi kepolisian tidak pernah benar-benar merupakan pekerjaan satu orang.
Keberhasilan pimpinan sangat bergantung pada kemampuan membangun tim yang mampu bergerak sebagai satu kesatuan.
Pelajaran ketiga: keputusan di bawah tekanan berbeda dengan keputusan di ruang kelas
Dalam ruang diskusi, kita mempunyai waktu.
Kita dapat membaca.
Kita dapat berdiskusi.
Kita dapat mengoreksi pendapat.
Di lapangan, situasinya berbeda.
Ketika tubuh lelah, informasi terbatas, waktu sempit, dan tekanan meningkat, kualitas pengambilan keputusan seseorang mulai terlihat.
Di situlah saya memahami:
pengetahuan memang penting, tetapi ketenangan dalam tekanan adalah kemampuan yang harus dilatih.
Seorang pemimpin Polri tidak cukup hanya mampu menjelaskan apa yang ideal.
Ia harus mampu menentukan apa yang harus dilakukan saat kondisi tidak ideal.
Pelajaran keempat: disiplin bukan tentang takut kepada pengawas
Salah satu pemahaman yang semakin kuat bagi saya selama DASPA adalah mengenai disiplin.
Disiplin yang sebenarnya bukan melakukan sesuatu karena sedang dilihat.
Disiplin adalah melakukan hal yang benar bahkan ketika tidak ada orang yang mengawasi.
Ketepatan waktu.
Persiapan perlengkapan.
Kepatuhan terhadap prosedur.
Perhatian terhadap detail.
Sekilas terlihat sederhana.
Tetapi dalam tugas kepolisian, kelalaian terhadap detail dapat berkembang menjadi persoalan besar.
Karena itu, disiplin sebenarnya adalah mekanisme untuk mengurangi kesalahan manusia.
Pelajaran kelima: seorang pemimpin harus memahami beratnya tugas anggota
Menurut saya, ini salah satu pelajaran terpenting.
Mudah memberikan perintah ketika kita berada di ruangan ber-AC.
Mudah mengatakan:
“Laksanakan.”
“Selesaikan.”
“Harus berhasil.”
Tetapi seorang pimpinan akan mempunyai perspektif berbeda ketika ia memahami bagaimana rasanya berada di lapangan.
Memahami kelelahan.
Memahami keterbatasan.
Memahami tekanan.
Empati seorang pimpinan tidak boleh lahir dari asumsi. Empati harus dibangun dari pemahaman terhadap realitas tugas anggota.
Ini bukan berarti pemimpin menjadi lembek.
Justru sebaliknya.
Pemimpin tetap harus menuntut hasil.
Tetapi ia harus mampu memberikan perintah yang rasional, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan.
KENAPA DASPA PENTING BAGI SELURUH MAHASISWA PTIK?
Karena mahasiswa PTIK dipersiapkan bukan hanya untuk menjadi polisi yang lebih berpendidikan.
Mahasiswa PTIK dipersiapkan untuk menjadi orang yang memengaruhi cara organisasi Polri berpikir dan bekerja.
Karena itu terdapat satu bahaya besar:
jangan sampai semakin tinggi pendidikan kita, semakin jauh kita dari realitas lapangan.
DASPA menjadi pengingat.
Bahwa di balik setiap teori kepemimpinan terdapat anggota yang harus melaksanakan perintah.
Di balik setiap konsep operasi terdapat personel yang menghadapi risiko.
Di balik setiap kebijakan terdapat konsekuensi nyata di lapangan.
PTIK mengajarkan kita untuk berpikir lebih luas.
DASPA mengingatkan kita untuk tetap berpijak pada realitas.
Keduanya tidak boleh dipisahkan.
Sebab Polri tidak membutuhkan pimpinan yang hanya kuat secara fisik tetapi miskin pemikiran.
Namun Polri juga tidak membutuhkan intelektual yang pandai berbicara tetapi kehilangan pemahaman terhadap tugas kepolisian yang sebenarnya.
Yang dibutuhkan adalah perwira yang mampu berpikir strategis, mengambil keputusan dalam tekanan, memahami anggotanya, dan tetap mempunyai ketangguhan ketika keadaan tidak berjalan sesuai rencana.
Bagi saya pribadi, DASPA bukan tentang membuktikan siapa yang paling kuat.
DASPA adalah tentang mengenali kelemahan diri, belajar mempercayai rekan, dan memahami kembali tanggung jawab menjadi seorang perwira Polri.
Pada akhirnya, mungkin yang paling penting bukan seberapa berat latihan yang telah kami lewati.
Komentar
Posting Komentar