Kepemimpinan Berbasis Extreme Ownership oleh PASIS BRIMOB
Konsep Extreme Ownership yang digagas oleh Jocko Willink menekankan bahwa seorang pemimpin harus mengambil tanggung jawab penuh atas keberhasilan maupun kegagalan timnya. Pemimpin tidak mencari alasan, tidak menyalahkan anggota, dan tidak hanya memberi perintah dari belakang. Pemimpin hadir, mengambil beban, memberi contoh, dan memastikan seluruh anggota tim bergerak menuju tujuan yang sama.
Prinsip tersebut saya lihat secara langsung dalam diri Pasis Arya Wisnu, teman pleton saya, yang saat itu menjabat sebagai Komandan Regu 5. Regu tersebut melaksanakan kegiatan renang laut dan mendayung. Dalam kegiatan renang laut, terdapat anggota regunya yang mengalami kesulitan berenang. Pada situasi itu, Arya Wisnu tidak melepaskan tanggung jawab sebagai komandan regu. Ia menarik dan membantu rekannya agar tetap bisa bertahan dan tidak tertinggal.
Tindakan tersebut dilakukan sampai dirinya sendiri mencapai batas kemampuan fisik. Setelah membantu anggota regunya, Arya Wisnu justru menjadi orang yang akhirnya harus diberikan bantuan oksigen karena kondisinya sudah sangat terkuras. Bagi saya, ini menunjukkan bentuk kepemimpinan yang nyata. Ia tidak hanya memikirkan keselamatan dan keberhasilan dirinya sendiri, tetapi menempatkan tanggung jawab terhadap anggota regu sebagai prioritas utama.
Hal yang sama terlihat dalam kegiatan mendayung. Regu 5 berhasil menjadi regu pertama yang mencapai garis akhir. Menurut saya, pencapaian ini tidak mungkin terjadi hanya karena kekuatan fisik semata. Apalagi anggota regu tersebut bukan berasal dari latar belakang Brimob. Keberhasilan itu menunjukkan adanya kepemimpinan yang efektif: kemampuan mengatur ritme, menjaga semangat, membangun kerja sama, dan membuat seluruh anggota percaya kepada arah komando yang diberikan.
Yang paling menonjol dari Arya Wisnu adalah gaya kepemimpinannya yang tidak banyak bicara, tetapi kuat melalui contoh. Ia tidak memimpin dengan sekadar instruksi keras atau dominasi verbal. Ia memimpin dengan tindakan. Ia menunjukkan bahwa pemimpin sejati bukan orang yang paling banyak berbicara, tetapi orang yang paling siap menanggung beban ketika situasi menjadi sulit.
Dalam perspektif Extreme Ownership, Arya Wisnu mencerminkan pemimpin yang mengambil tanggung jawab penuh terhadap timnya. Saat ada anggota yang mengalami kesulitan, ia tidak menyalahkan. Saat regu harus mencapai target, ia tidak hanya menuntut. Ia hadir, ikut memikul beban, dan bahkan sampai mengorbankan kondisi fisiknya sendiri demi memastikan regunya tetap berjalan.
Bagi saya, pengalaman melihat Arya Wisnu memimpin Regu 5 menjadi bukti bahwa kepemimpinan tidak selalu lahir dari pangkat, jabatan, atau latar belakang satuan tertentu. Kepemimpinan lahir dari tanggung jawab, keberanian mengambil beban, kemampuan memberi contoh, dan kemauan untuk memastikan tim berhasil bersama. Dalam konteks tersebut, Arya Wisnu menunjukkan Extreme Ownership yang sesungguhnya saat menjadi komandan regu.
Bravo utk IPTU.Arya Wisnu.
BalasHapusSekali melangkah pantang menyerah, sekali tampil harus berhasil !