Predictive Policing dan Risiko Diskriminasi SARA: Tantangan Penerapannya di Indonesia
Bayangkan sebuah sistem memberi tanda merah pada satu kampung: wilayah itu dinilai “berisiko tinggi” mengalami kejahatan dalam tujuh hari ke depan. Patroli ditambah. Pemeriksaan diperbanyak. Warga di wilayah itu lalu makin sering tercatat dalam data kepolisian. Ketika data baru dimasukkan kembali ke sistem, wilayah yang sama kembali memperoleh skor tinggi. Mesin terlihat akurat, padahal yang mungkin sedang diukur bukan semata-mata kejahatan, melainkan intensitas pengawasan negara di lokasi tersebut. Itulah masalah mendasar predictive policing. Teknologi ini tidak benar-benar meramal kejahatan. Ia mengolah data masa lalu—laporan polisi, waktu dan lokasi kejadian, pola panggilan layanan, atau catatan penegakan hukum—untuk memperkirakan risiko di masa dekat. Pada penggunaan terbatas, teknologi dapat membantu menentukan prioritas patroli dan pencegahan kejahatan. Namun, ketika prediksi risiko bergeser dari tempat dan peristiwa menjadi orang atau kelompok, bahayanya meningkat taja...